Cerita dari hati setiap penulis

Energi Dunia Pendidikan Yang Harus di Ketahui

Energi Dunia Pendidikan Yang Harus di Ketahui

Karenanya, apabila memang tak ada tempat bagi para saintis ilmu murni, filsuf, seniman, sastrawan dan mereka yang ‘dipandang tak memiliki kontribusi bagi industri dan hanya sedikit dihargai lebih daripada orang gila’ serta menjadi warga negara Indonesia, maka bukan tidak mungkin apa yang pernah dialami oleh Abdus Salam, seorang fisikawan pemenang Nobel dari Pakistan–yang kemudian hijrah ke Inggris–pun harus mereka alami:

“Tadi saya telah bicara tentang dukungan terhadap Sains. Salah satu segi daripadanya adalah perasaan aman dan kesinambungan yang harus diberikan seorang pakar-ilmuwan dalam pekerjaannya. Kini, seorang pakar atau teknologi Arab atau Pakistan—lebih dari tiga puluh ribu orang—pasti akan diterima dengan tangan terbuka selama hidupnya di Inggris Raya atau Amerika Serikat, asal ia mempunyai kualitas yang disyaratkan… Isolasi semacam inilah yang telah memaksa saya untuk meninggalkan negara saya mengajar di sana selama beberapa tahun. Saya menghadapi pilihan yang kaku: tetap berkecimpung di bidang Fisika atau tinggal di Pakistan. Dengan hati pilu, saya pergi.”

Di kalangan sebagian pendidik seringkali mengakar kuat keyakinan bahwa pendidikan bisa mencetak seseorang menjadi apa pun.

Banyaknya mahasiswa yang tidak bersemangat kuliah, bahkan drop out, mengindikasikan, salah satunya, bahwa tidak semua orang akan menemukan energi minimalnya di sembarang bidang.

Lao Tse pernah mengatakan bahwa barangsiapa berjinjit, maka dia tidak akan bertahan lama; maksudnya, siapa pun yang memaksakan diri, dan dalam hal ini memaksakan diri harus menjadi ahli di suatu bidang yang bukan menjadi passion dan energi minimalnya, niscaya akan ‘patah’ dan tak bertahan, serta tak akan menjadi yang terbaik di bidang tersebut.

Karena itu, sudah seharusnya pendidikan dikembalikan kepada semangat ‘waktu senggang’, yaitu dalam pengertian ‘kembali kepada diri’.

Pendidikan seharusnya bisa mengantarkan peserta didiknya untuk mengenali energi minimalnya.

Dengan begitu, peserta didik bisa merintis jalan ke arah pengenalan diri autentiknya. Maka, pendidikan pun akan berfungsi sebagai panggilan untuk menjadi manusia.